Sisi Lain dari Ceritamu Sehari-hari, feel free to see @lantai13

 

Another Side of Rain


Tinggal di kaki gunung, terutama salah satu gunung teraktif di dunia memang memiliki keasyikan tersendiri terutama di musim penghujan seperti saat ini. Air serasa tumpah dari langit, kabut yang merambat, dan suhu yang stabil dingin, membuatku merasa nyaman dg selimud tebal setelah menghabiskan secangkir coklat panas.

Jam bergaya retro di samping tempat tidur memuncul angka dua-puluh-dua empat-puluh-sembilan. Entah apakah aku sempat terpejam atau tidak, dering telepon membuatku terlonjak dari kasur saking terkejutnya.

“malam dok” ujar suara di seberang sana, cepat, lugas, namun masih sopan khas orang-orang selatan

“malam, suster Dean, ada apa?”

“tolong segera kemari, darurat, kecelakaan mobil parah, anak-anak, pendaharan otak”

“beri aku 24 menit” sahutku sambil bergegas melepas baju tidur.

22.57, aku sudah berada di teriosku. Cukup bertenaga untuk daerah penuh tanjakan, namun cukup mudah dikendalikan.  Seharusnya hanya perlu 21 menit maksimum dengan kecepatan sedang unutk menuju rumah sakit. Namun kali ini aku akan memacunya secepat mungkin, 3 buah tanjakan, satu jembatan, dan 6 tikungan.

23.06, hujan masih saja tumpah di jalanan. Bahakan terasa semakin rapat saja, meski angin sudah tidak sekencang sebelumnya. Tepat di kelokan Bailey, sosok itu muncul. Seketika itu pula teriosku berputar ke kirir dua kali dan berhasil membuatku pening. Dan tentu saja orang tadi masih selamat, bahkan kini mengehampiriku, mengetuk kaca jendela kanan dengan ujung pistolnya.

23.09, badanku basah tertimpa hujan di tepi kelokan Bailey. Pria akhir 30-an dengan ubah basah kini berada di belakang kemudi, wajah yang sedikit pucat, kaku, dan cemas akan sesuatu. Tampaknya sudah lebih dari tiga hari ia belum menyentuh shavernya.

23.13, Opsir Jeankins lewat dengan vespa kesayangannya. Waktu yang cukup tepat untuk mengantarkanku segera ke rumah sakit. Sekaligus aku menceritakan cirri-ciri orang yang mencuri mobilku.

23.21, aku terlambat. Dengan tetesan air hujan mengucur dari bajuku, aku bergegas menuju ruang operasi. Suster Dean sudah ada di ambang pintu. Cukup sekilas saja, dia menggelengkan kepalanya. Sambil mengatur nafas, aku mendekatinya perlahan.

“tidak?”

“5 menit lalu, terlalu parah” sahut Dean. “ ayahnya pun tak sempat meraih afas terakhirnya, pria dengan mantel basah yang sedang duduk disana” Dean mengerlingkan matanya ke arah seorang pria yang terduduk sambil menutup mukanya dengan telapak tangannya.

“hfff…h”

“dok, Anda sebaiknya berganti pakaian kering” ujar Dean

Aku mengangguk, sekilas ku lirik lagi sang ayah yang masih terduduk. Ia mengakat kepalanya dan tak sengaja menatapku pula. Seorang pria akhir 30-an, bermuka sedikit pucat yang tampaknya sudah tiga hari tidak memegang shaver.

Lima menit. Seandainya aku yang datang terlebih dahulu daripada sang ayah, seandainya mobilku tidak dicurinya,  maka..cerita ini akan memiliki akhir yang berbeda.

Dia masih menatapku terkejut, ketika aku berbelok masuk ke kamar ganti dan membelakanginya.

 

  

  1. lantai13 posted this